Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

November 14, 2007

Dracula: Fakta yang Menjadi Fiksi

(Makalah ini disampaikan dalam bedah buku “Dracula, Pembantai Umat Islam dalam Perang Salib” di auditorium Fakultas Ilmu Budaya UGM)

Oleh: Ragil Nugroho

Sejarah semestinya menjadi cermin paling jernih bagi umat manusia untuk menatap masa depan.Tetapi bagaimana kalau sejarah telah dibelokan oleh kelompok pemenang?

Sejarah Superhero

Filsuf dan sekaligus aktivis gerakan kiri Italia, Antonia Gramsci, dalam teorinya tentang hegemoni (peracunan kesadaran), mengungkapkan bahwa seringkali sejarah ditentukan oleh kekuasaan yang menang. Sejarah semacam ini akan memuja kelas yang berkuasa dan sekaligus mencemooh kelas yang kalah; ia hanya akan berbicara tentang para raja bukan tentang para kawula. Akibatnya, kelas yang subaltern (dikalahkan) harus berada di luar gelanggang sejarah, yang artinya tidak mempunyai peran apa-apa dalam sejarah. Sehingga tepat kalau sejarah jenis ini disebut sejarah “Superhero”.

Lebih lanjut Gramsci dalam bukunya yang cukup fenomenal, Notes on Italian History (1934), menuturkan bahwa sebetulnya kelas subaltern­mereka ini terdiri dari petani, buruh, kaum miskin perkotaan, gelandangan dan kelompok-kelompok lain yang termarjinalkan­ mempunyai sejarah sendiri yang tidak kalah kompleksnya dengan sejarah kelas yang berkuasa. Akan tetapi, akibat posisi yang tertindas membuat mereka tak bisa menuliskan sejarah mereka sendiri dan harus menerima “sejarah resmi” yang dibuat oleh kelas yang berkuasa.

Teori yang dikemukan Gramsci di muka sangat tepat untuk melihat penulisan sejarah yang dominan dewasa ini. Apa yang dikatakan oleh Gramci itu tampak demikian kasat mata. Di antara sekian banyak negara, Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang gemar memproduksi sejarah superhero. Agar gampang melihat fakta-faktanya tengok saja film-film produksi mereka seperti Supermen, Batman, Rombo dan lain sebagainya.
Dalam kasus film Rambo misalnya, terlihat dengan jelas bagaimana Amerika Serikat ingin selalu menjadi bangsa pemenang walaupun mereka mengalami kekalahan telak di Vietnam. Mereka ingin tetap menjadi superhero walaupun sebetulnya telah terpuruk. Selaian yang dilakukan oleh Amerika Serikat, sejarah superhero bisa dilihat dari sejarah para diktator­semisal Stalin, Hilter, Mao. Para diktator tersebut berusaha mengagung-agungkan sejarahnya sendiri agar diri mereka layak disebut superhero. Apabila ada sejarah yang berlawan dengan yang mereka mauni maka akan dibungkam untuk selama-lamanya.

Dalam khazanah penulisan sejarah di Indonesia sejarah superhero juga akan banyak kita dapatkan. Para penguasa berusaha agar nama mereka digoreskan dengan tintas emas, sebagai pahlawan, sementara musuh-musuh mereka harus dikutuk menjadi manusia jahat atau menjadi hewan. Hal ini terlihat jelas dalam sejarah para raja pada masa feodal. Erlangga misalnya, menjadikan Calon Arong­ musuh politiknya­sebagai tukang sihir yang suka mandi darah. Senopati juga melakukan hal serupa, dengan tipu daya khas seorang Machialevis, menuduh Ki Ageng Mangir sebagai pemberontak yang layak dibunuh. Atau, bagaimana Sangkuriang dikisahkan dalam wujud manusia yang berubah menjadi seekor anjing akibat penentangannya terhadap kekuasaan yang dominan saat itu. Melangkah pada zaman yang lebih modern, sejarah superhero ini terus berlanjut. Hal ini sangat kesat mata ketika Soeharta berkuasa. Ia buat sejarahnya sendiri sebagai pahlawan dalam Serangan Umum 1 Maret dan sebagai penumpas gerombolan liar PKI yang katanya akan merongrong Pancasila. Sebagaimana para leluhurnya yang gila akan nama kebesaran­raja- raja Mataram selalu bergelar Hamengkubuwona (pemangku dunia) dan Pakubuona (paku dunia)­ Soeharto pun mengangkat dirinya sebagai Bapak Pembangunan. Sejarah-sejarah seperti inilah yang menjadi “sejarah resmi” di Indonesia hingga saat ini. Bisa dikatakan bahwa manusia Indonesia sejak dalam kandungan sampai akan menjemput ajal dicecoki oleh sejarah superhero.

Dalam bandul sejarah yang condong pada sejarah superhero itulah bayang-bayang mitos begitu kuatnya sehingga menelan fakta. Ia telah menelusup pada pola pikir masyarakat. Mitos-mitos baru pun terus-menerus direproduksi. Tak sadar bahwa mitos-mitos tersebut telah melenakan dan semakin melapukkan sejarah itu sendiri.

Penjajahan Sejarah

Dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Orientalisme, Erdwad W Said, memaparkan tentang dominasi Barat dalam menciptakan pandangan tunggal. Ia memaparkan bahwa Barat membuat penilian tentang Timur. Dalam pandangan Barat, Timur merupakan sekumpulan bangsa irasional,
lemah-lembut dan eksotis. Sedangkan dalam memberikan penilaian terhadap dirinya sendiri mereka menyebut sebagai bangsa yang rasional, penuh perhitungan dan dinamis. Dengan penilian seperti itu bangsa Barat ingin memberikan citra bahwa mereka berbeda dengan bangsa lain yang ada di Timur.

Tak terasa, penilian yang dilakukan oleh Barat tersebut termakan oleh bangsa-bangsa Timur. Mereka menjadi alpa menilai diri mereka sendiri dan menyerahkan semuanya terhadap Barat. Mereka memandang diri mereka lebih rendah dari Barat. Mereka merasa tak layak hidup sejajar dengan Barat. Dari proses seperti inilah penjajahan sejarah bermula, dan kemudian berujung pada penjajahan sebuah bangsa.

Memang masih jarang yang mengupas penjajahan sejarah ini. Para aktivis maupun intelektual selama ini gaduh berdebat tentang penjajahan ekonomi dan politik, masih jarang memperdebatkan penjajahan sejarah ini. Padahal penjajahan sejarah tak kalah berbahaya dari bentuk-bentuk penjajahan yang lainnya. Apabila hal ini tak dilawan maka apa yang pernah dikatakan Milan Kundera, “maka tak lama setelah itu bangsa tersebut akan mulai melupakan apa yang terjadi sekarang dan pada masa lampau, akan benar-benar mewujud.

Sebuah bangsa yang telah terjajah sejarahnya akan tumbuh menjadi bangsa yang rapuh. Mereka akan kehilangan kebanggaan terhadap dirinya sendiri. Mereka akan lupa tentang jati dirinya. Maka ketika suatu bangsa sudah kehilangan kepercayaan diri dan buta akan dirinya sendiri, ia akan mudah terombang-ambing. Akibatnya, sebagai pegangan mereka akan berpegangan pada bangsa yang menurut mereka lebih “kuat” dan “maju”. Dan, secara tak sadar mereka telah jatuh pada cengkraman negara lain.

Penjajahan sejarah ini sangat efektif untuk melakukan penjajahan terhadap sebuah bangsa secara keseluruhan. Sebagai contoh adalah yang akhir-akhir ini digembor-gemborkan oleh AS dan sekutunya tentang terorisme. Mereka menciptakan sejarah baru bahwa Afganistan dan Irak merupakan sarang teroris. Dengan sejarah rekaan tersebut telah melapangkan jalan bagi mereka untuk melakukan invasi/penjajahan. Alasan mereka yang sebenarnya­ menguasi sumber minyak di Timur Tengah­ bisa mereka tutup-tutupi dengan dalih mengejar gembong teroris.

Arnold Toynbee dalam karyanya Mankind and Mother Earth A Narrative History of Word (1975), memberikan pemaparan bahwa penjajahan sejarah telah membuat sejarah hanya berisikan masa lalu yang mengarah pada kuasa pengaruh Barat. Akibatnya, peristiwa-peristiwa masa lalu lainnya dianggap tidak relevan dan karena oleh itu bisa diabaikan. Lebih lanjut Toynbee memberikan uraian bahwa akibat westernisasi sejarah tersebut, negara-negara yang terbaratkan menjadi subordinat dan terpinggirkan.

Membongkar Sebuah Kebohongan

Kisah hidup Dracula merupakan salah satu contoh bentuk penjajahan sejarah yang begitu nyata yang dilakukan Barat. Kalau film Rambo merupakan suatu fiksi yang kemudian direproduksi agar seolah-olah menjadi nyata oleh Barat, maka Dracula merupakan kebalikannya, tokoh nyata yang direproduksi menjadi fiksi. Bermula dari novel buah karya Bram Stoker yang berjudul Dracula, sosok nyatanya kemudian semakin dikaburkan lewat film-film seperti Dracula’s Daughter (1936), Son of Dracula (1943), Hoorof of Dracula (1958), Nosferatu (1922)­yang dibuat ulang pada tahun 1979­dan film-film sejenis yang terus-menerus diproduksi.

Lantas, siapa sebenarnya Dracula itu?

Dalam buku berjudul “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, sosok Dracula dikupas secara tuntas. Dalam buku ini dipaparkan bahwa Dracula merupakan pangeran Wallachia, keturunan Vlad Dracul. Dalam uraian Hyphatia tersebut sosok Dracula tidak bisa dilepaskan dari menjelang periode akhir Perang Salib. Dracula dilahirkan ketika peperangan antara Kerajaan Turki Ottoman­ sebagai wakil Islam­ dan Kerajaan Honggaria­ sebagai wakil Kristen ­semakin memanas. Kedua kerajaan tersebut berusaha saling mengalahkan untuk merebutkan wilayah-wilayah yang bisa dikuasai, baik yang berada di Eropa maupun Asia. Puncak dari peperangan ini adalah jatuhnya Konstantinopel­ benteng Kristen­ ke dalam penguasaan Kerajaan Turki Ottoman.

Dalam babakan Perang Salib di atas Dracula merupakan salah satu panglima pasukan Salib. Dalam peran inilah Dracula banyak melakukan pembantain terhadap umat Islam. Hyphatia memperkirakan jumlah korban kekejaman Dracula mencapai 300.000 ribu umat Islam. Korban-korban tersebut dibunuh dengan berbagai cara­ yang cara-cara tersebut bisa dikatakan sangat biadab ­yaitu dibakar hidup-hidup, dipaku kepalanya, dan yang paling kejam adalah disula. Penyulaan merupakan cara penyiksaan yang amat kejam, yaitu seseorang ditusuk mulai dari anus dengan kayu sebesar lengan tangan orang dewasa yang ujungnya dilancipkan. Korban yang telah ditusuk kemudian dipancangkan sehingga kayu sula menembus hingga perut, kerongkongan, atau kepala. Sebagai gambaran bagaimana situasi ketika penyulaan berlangsung penulis mengutip pemaparan Hyphatia:

“Ketika matahari mulai meninggi Dracula memerintahkan penyulaan segera dimulai. Para prajurit melakukan perintah tersebut dengan cekatan seolah robot yang telah dipogram. Begitu penyulaan dimulai lolong kesakitan dan jerit penderitaan segera memenuhi segala penjuru tempat itu. Mereka, umat Islam yang malang ini sedang menjemput ajal dengan cara yang begitu mengerikan. Mereka tak sempat lagi mengingat kenangan indah dan manis yang pernah mereka alami.”

Tidak hanya orang dewasa saja yang menjadi korban penyulaan, tapi juga bayi. Hyphatia memberikan pemaparan tetang penyulaan terhadap bayi sebagai berikut:

“Bayi-bayi yang disula tak sempat menangis lagi karena mereka langsung sekarat begitu ujung sula menembus perut mungilnya. Tubuh-tubuh para korban itu meregang di kayu sula untuk menjemput ajal.”

Kekejaman seperti yang telah dipaparkan di atas itulah yang selama ini disembunyikan oleh Barat. Menurut Hyphatia hal ini terjadi karena dua sebab. Pertama, pembantaian yang dilakukan Dracula terhadap umat Islam tidak bisa dilepaskan dari Perang Salib. Negara-negara Barat yang pada masa Perang Salib menjadi pendukung utama pasukan Salib tak mau tercoreng wajahnya. Mereka yang getol mengorek-ngorek pembantaian Hilter dan Pol Pot akan enggan membuka borok mereka sendiri. Hal ini sudah menjadi tabiat Barat yang selalu ingin menang sendiri. Kedua, Dracula merupakan pahlawan bagi pasukan Salib. Betapapun kejamnya Dracula maka dia akan selalu dilindungi nama baiknya. Dan, sampai saat ini di Rumania, Dracula masih menjadi pahlawan. Sebagaimana sebagian besar sejarah pahlawan-pahlawan pasti akan diambil sosok superheronya dan dibuang segala kejelekan, kejahatan dan kelemahannya.

Guna menutup kedok kekejaman mereka, Barat terus-menerus menyembunyikan siapa sebenarnya Dracula. Seperti yang telah dipaparkan di atas, baik lewat karya fiksi maupun film, mereka berusaha agar jati diri dari sosok Dracula yang sebenarnya tidak terkuak. Dan, harus diakui usaha Barat untuk mengubah sosok Dracula dari fakta menjadi fiksi ini cukup berhasil. Ukuran keberhasilan ini dapat dilihat dari seberapa banyak masyarakat­ khususnya umat Islam sendiri ­yang mengetahui tentang siapa sebenarnya Dracula. Bila jumlah mereka dihitung bisa dipastikan amatlah sedikit, dan kalaupun mereka mengetahui tentang Dracula bisa dipastikan bahwa penjelasan yang diberikan tidak akan jauh dari penjelasan yang sudah umum selama ini bahwa Dracula merupakan vampir yang haus darah.

Selain membongkar kebohongan yang dilakukan oleh Barat, dalam bukunya Hyphatia juga mengupas makna salib dalam kisah Dracula. Seperti yang telah umum diketahui bahwa penggambaran Dracula yang telah menjadi fiksi tidak bisa dilepaskan dari dua benda, bawang putih dan salib. Konon kabarnya hanya dengan kedua benda tersebut Dracula akan takut dan bisa dikalahkan. Menurut Hyphatia pengunaan simbol salib merupakan cara Barat untuk menghapus pahlawan dari musuh mereka ­pahlawan dari pihak Islam­dan sekaligus untuk menunjukkan superioritas mereka.

Siapa pahlawan yang berusaha dihapuskan oleh Barat tersebut? Tidak lain Sultan Mahmud II (di Barat dikenal sebagai Sultan Mehmed II). Sang Sultan merupakan penakluk Konstantinopel yang sekaligus penakluk Dracula. Ialah yang telah mengalahkan dan memenggal kepala Dracula di tepi Danua Snagov. Namun kenyataan ini berusaha dimungkiri oleh Barat. Mereka berusaha agar merekalah yang bisa mengalahkan Dracula. Maka diciptakanlah sebuah fiksi bahwa Dracula hanya bisa dikalahkan oleh salib. Tujuan dari semua ini selain hendak mengaburkan peranan Sultan Mahmud II juga sekaligus untuk menunjukkan bahwa merekalah yang paling superior, yang bisa mengalahkan Dracula si Haus Darah. Dan, sekali lagi usaha Barat ini bisa dikatakan berhasil.

Selain yang telah dipaparkan di atas, buku “Dracula, Pembantai Umat Islam Dalam Perang Salib” karya Hyphatia Cneajna ini, juga memuat hal-hal yang selama tersembunyi sehingga belum banyak diketahui oleh masyarakat secara luas. Misalnya tentang kuburan Dracula yang sampai saat ini belum terungkap dengan jelas, keturunan Dracula, macam-macam penyiksaan Dracula dan sepak terjang Dracula yang lainnya.

Sebagai penutup tulisan ini penulis ingin menarik suatu kesimpulan bahwa suatu penjajahan sejarah tidak kalah berbahayanya dengan bentuk penjajahan yang lain­politik, ekonomi, budaya, dll. Penjajahan sejarah ini dilakukan secara halus dan sistematis, yang apabila tidak jeli maka kita akan terperangkap di dalamnya. Oleh karena itu, sikap kritis terhadap sejarah merupakan hal yang amat dibutuhkan agar kita tidak terjerat dalam penjajahan sejarah. Sekiranya buku karya Hyphatia ini ­walaupun masih merupakan langkah awal­ bisa dijadikan pengingat agar kita selalu kritis terhadap sejarah karena ternyata penjajahan sejarah itu begitu nyata ada di depan kita.

Other Source:
http://en.wikipedia.org/wiki/Vlad_III_the_Impaler
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/72698

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: