RUHANI-1: Ruhani itu apa ?

November 16, 2007

RUHANI-1
Ruhani itu apa ?

Manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi jasmani dan ruhani, jiwa dan raga. Meski tubuh manusia juga memiliki kerumitan, tetapi ilmu yang berbicara tentang kesehatan tubuh sudah sangat maju, jumlah dokter sudah sangat banyak, industri obat juga sudah berkembang pesat. Sedang ilmu yang berbicara tentang dimensi ruhani manusia, masih jauh tertinggal, konsep keruhanian juga masih belum final perumusannya, ahli kesehatan ruhaninya bukan saja kurang tetapi juga tidak ada standarisasi. Ketika kita dipaksa harus menjawab pertanyaan; hakikat manusia sesungguhnya jasmaninya atau ruhaninya ? maka hampir pasti kita menjawab yang kedua. Sehari-haripun orang awam berkata, manusia itu yang penting kan hatinya, yang penting jiwanya.

Ruhani itu apa ?
Kata ruhani berasal dari kata ruh. Dalam bahasa Arab kalimat ruh mempunyai banyak arti. Disamping kata ruh ada kata (rih) yang berarti angin dan rauh – yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab, kalimat (ruhaniyyun- ruhaniy) digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin, Dalam Al-Qur’an, ruh juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-term yang digunakan Al-Qur’an dalam menyebut ruh, bermacam-macam.

Pertama ruh disebut sebagai sesuatu :ويسئلونك عن الرّوح قل الرّوح من امر ربّى وما أوتيتم من العلم الاّ قليلا

artinya : Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh, jawablah bahwa ruh itu urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberitahu tentang ruh itu kecuali hanya sedikit (Q/17:85)

Melihat dari latar belakang turunnya ayat tersebut , yaitu pertanyaan orang tentang ruh yang belum bisa dijawab secara memuaskan oleh manusia ketika itu adalah ruh manusia yang menjadikan seseorang masih tetap hidup .Jawaban singkat Al-Qur’an atas pertanyaan itu menunjukkan bahwa ruh akan tetap menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh Tuhan. Kebanyakan penyebutan ruh dalam Al-Qur’an seperti dalam surat al Anbiyā/21:91), dan surat as Sajdah/32:9) juga Q/66:12, Q/15:29, Q/38:72) adalah menunjuk pada ruh dimaksud diatas.

Selanjutnya Al-Qur’an juga banyak menggunakan kalimat ruh untuk menyebut hal lain, seperti :
1. malaikat Jibril, atau jenis malaikat lain,
الرّوح الأمين arruh al amin seperti yang tersebut dalam surat Q/26:193, Q/2:87, Q/16:102, Q/70:4, Q/7838, Q/97:4),
2. rahmat Allah kepada kaum mu’minin (وأيّدهم بروح منه) seperti yang tersebut dalam surat al Mujādilah/58:22)3. kitab suci Al-Qur’an (وكذلك أوحينا اليك روحا من أمرنا) seperti dalam surat as Syūra/42:52).

Penyebutan ruh untuk Al-Qur’an menurut para mufassir dinisbatkan kepada ruh kebenaran yakni bahwa al Qur’an merupakan penyebab adanya kehidupan akhirat seperti yang disifatkan dalam surat al `Ankabūt/29:64 bahwa akhirat itu adalah kehidupan yang sebenarnya (وانّ الدّار الآخرة لهى الحيوان).

Sedangkan ruh dalam hubungannya dengan Nabi Isa, seperti yang tersebut dalam surat an Nisā/4: 171 (انّما المسيح عيسى ابن مريم رسول الله وكلمته القاها الى مريم وروح منه) sebagian mufassir menyebut bahwa kalimat وروح منه bukan dalam arti ditiupkan ruh dari Allah tetapi Isa itu sendiri adalah wujud rahmat dan cinta Nya.

Aspek-Aspek Ruhani Manusia
Berbeda dengan aspek-aspek jasmani manusia yang dapat dilihat dan dikonfirmasi dengan alat, aspek-aspek ruhani manusia hanya bisa diakses melalui fikiran dan perasaan. Instrumen keruhanian manusia seperti yang disebut dalam al Qur’an adalah `aql, qalb, nafs, syahwat, hawa, dan bashirah, yang kesemuanya berada dalam sistem nafsani.

1.`Aql (akal) lebih merupakan aspek intelektual manusia yang kerjanya berfikir dan problem solving capasity, mampu menemukan kebenaran tetapi bukan menentukannya. Istilah akal yang sehat (al `aql as salim) sering digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh aspek ruhani.

2.Qalb (hati) merupakan pusat kendali sistem ruhani, alat untuk memahami realita dan pemutus tindakan, berkesadaran.Hati hanya memutus apa yang disadari, sedang apa yang sudah dilupakan tidak lagi berada dalam hati, tetapi di dalam file alam bawah sadar di dalam nafs, yang terkadang muncul dalam mimpi. Tabiat hati itu inkonsisten, berubah-ubah. Istilah hati yang sehat (qalbun salim) juga digunakan untuk menyebut kesehatan seluruh sistem nafsani.

3.Bashirah (hati nurani) merupakan titik Tuhan (God Spot), atau menurut ilmu tasauf sebagai cahaya ketuhanan yang ada dalam hati (nurun yaqdzifuhullah fi al qalb). Berbeda dengan hati yang bertabiat inkonsisten, nurani kejujuranya sangat konsisten dan tidak mau diajak kompromi. Jika anda merasa iba, empati, menangis di Ka`bah, itu semua bersumber dari kejujuran nurani.

4.Syahwat, merupakan penggerak tingkah laku (motiv). Menurut al Qur’an manusia dihiasi dengan syahwat kepada lain jenis (seksual) anak-anak (kebanggan), perhiasan atau benda berharga (kebanggaan ), kendaraan yang bagus (kebanggan dan manfaat), ternak dan kebun (manfaat dan kebanggan). Syahwat sifatnya netral, dan halal sepanjang prosedurnya benar.

5.Hawa (dalam bahasa Indonesia menjadi hawa nafsu), adalah syahwat kepada kepada sesuatu yang rendah, yang haram, yang merusak, yang berdosa. Menyalurkan syahwat seksual degan menikah bernilai ibadah, berpahala, menyalurkannya melalui zina adalah wujud hawa nafsu, berdosa. Ingin kaya dengan kerja keras adalah ibadah , jika dengan korupsi adalah wujud dari hawa. Tabiat hawa adalah ingin mereguk kenikmatan sesegera mungkin dan tak peduli kepada akibat. Jika hati dan akal senang merenung ulang, mempertimbang untung rugi, maka hawa nafsu mengedepankan aji mumpung, sikat duluan mikir belakangan. Begitu kuatnya pengaruh hawa sehinga menurut al Qur’an ada orang yang mempertuhankan hawa (ittakhaza ilahahu hawahu), maksudnya dalam hidupnya ia tunduk patuh kepada tuntutan hawa nafsu, membelakangkan akal sehat dan hati nurani.

agussyafii

Satu Tanggapan to “RUHANI-1: Ruhani itu apa ?”

  1. nothing Says:

    Sangat ,menarik topik yg diangkat. Topik ini mmg menjadi topik yg tdk pernah selesai. Boleh kah saya mengutarakan konsep saya?.

    1. Saya mengenal dalam diri kita ada 3 entitas: JASAD, JIWA, RUH. Ruh dan jiwa sangat berbeda. Masing2 mempunyaui tugas dan peran masing2. Kalau kita jeli/hati2 mengupas apa2 yg disampaikan dlm Al-Qur’an akan terasa perbedaan2 Ruh & Jiwa.
    2. Jati diri kita adalah Jiwa/nafs. Kita bisa ambil contoh. Jika ada seseorg yg dihipnotis atau apapun yg menyebabkan dirinya/jiwanya diambil alih kmd membuat suatu kejahatan, maka ktk jiwa yg sebenarnya kembali ke tubuh tsb, apakah kita akan menghukum jasad dan jiwa tsb atas kesalahan2 jasadnya?? Saya pikir tdk. Sehingga kenapa bhkn org2 sakit jiwa pun tdk dikenai hukuman atas apa2 yg dia perbuat (terjadi satu kesamaan perlakuan dlm hukum dunia/negara dan hukum Allah).
    3. Dari entitas JIWA, muncul: Hawa, Syahwat, dll, hawa & syahwat bukanlah entitas tersendiri, mrk adalah product jiwa (ada yg baik dan ada yg buruk).
    4. Dari entitas Ruh, muncul: (hati) Nurani, Akal (sehat), Nilai2 (kebenaran), Prinsip2 dll. Sehingga lagi2 (hati) nurani bukanlah entitas tersendiri.
    5. Qalb (berubah2) adalah tempat bersemayamnya Nafs/Jiwa.
    6. Kita dilarang utk terlalu jauh mencari tau dzat Ruh, lbh krn utk kepentingan kita sendiri, krn kt akan terjebak dlm kegelapan dan kebuntuan tanpa akhir/ujung, krn keterbatasan akal kt.
    7. Allah tdk pernah melarang kita mengenali Nafs, bhkn kita diperintahkan/wajib mengenali nafs/jiwa kita.

    Terima kasih.

    microsky
    Terima kasih🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: