Antara Yang Tradisional dan Yang Modern di Bandung

November 29, 2007

ES CENDOL ELIZABETH

Awalnya es cendol ini dijual berkeliling di pusat kota Bandung, seperti Dago, Cigereleng, dan Dipatiukur. Tentu namanya belum seperti sekarang. Nama es cendol Elizabeth ini baru digunakan setelah tempat mangkalnya di jl. Otista, dibangun toko tas Elizabeth, tahun 1982.

“Dulu saya bahkan menyediakan es cendol secara gratis bagi setiap pengunjung atau rombongan yang datang ke toko Elizabeth setiap hari Sabtu dan Minggu,” kenang Rohman (39) sang pemilik. Tetapi teknik dagang seperti itu diubahnya sejak tahun 1985. Kini cendolnya bisa dinikmati dengan harga Rp. 1.000. Meski tak menyebut berapa gelas per hari yang berhasil dijualnya, tetapi dari jumlah bahan yang digunakan, kita bisa melihat cendol ini laku keras.
Setiap hari Rohman menghabiskan sekitar 25 kg tepung beras, 25 tepung sagu, dan 200 butir kelapa untuk dijadikan santan. Ia juga sering kewalahan menerima pesanan untuk pesta perkawinan. “Anak buah saya hanya 15 orang. Jadi, kalau ada 19 orang yang pesan untuk pesta kawin, misalnya, yang 4 terpaksa saya tolak.”

COLENAK MURDI

Colenak termasuk jajanan khas Bandung yang masih bertahan. Colenak Murdi yang terletak di jl. Ahmad Yani di kawasan Cicadas ini, misalnya, sudah berdiri sejak tahun 30-an. “Murdi nama kakek saya,” ujar Rajak (67) yang memegang usaha turunan ini dari ayahnya.
Colenak terdiri atas peuyeum (tape singkong) yang dibakar kemudian dinikmati dengan saus yang terbuat dari parutan kelapa dan gula merah. Bedanya dengan colenak yang dijual biasa, colenak Murdi menggunakan esens durian. “Itu digunakan sejak tahun ’67. Alhamdulillah banyak yang suka,” ujar Rajak.

Sehari Murdi menghabiskan 50 – 70 kilogram peuyeum Cimenyan. “Sayang sekarang makin sulit didapat. Maklumlah daerah Cimenyan kini dijadikan perumahan. Padahal di situ peuyeumnya enak. Kualitas peuyeum juga tergantung pada cuaca. Kalau musim kemarau, peuyeum yang dihasilkan lebih enak dan padat ketimbang waktu musim hujan,” jelas Rojak.

Selain dipesan hotel-hotel besar di Bandung, colenak buatannya juga sering dihidangkan dalam acara pertemuan atau resepsi pernikahan sebagai hidangan tradisional. “Colenak juga bisa dibawa sebagai oleh-oleh, lo. Karena mampu bertahan sampai 3 hari,” kata Rajak.

ANEKA KERIPIK

Mencari keripik, Karya Umbil-lah tempatnya. Mulai dari keripik singkong, gadung, ubi, sampai oncom dan tempe ada di sana. Toko yang terletak di Jl. Cihampelas ini sudah berdiri sejak tahun 1965. “Tetapi usaha keripiknya sendiri sudah dirintis sejak tahun 1947 oleh orang tua saya,” ujar Valentinus (49).

Jajanan ini tersedia dalam kemasan 2 ons atau 1/4 kg dengan harga antara Rp. 4.000 hingga Rp. 14.000 per bungkus. Produksi keripik ini tidak dibuat di satu tempat, tetapi terpencar di rumah saudara-saudaranya. “Ini memang home industry keluarga. Jadi saudara-saudara membuat makanan di rumah masing-masing sebelum disetor ke jl. Cihampelas untuk dipak atau dibungkus dengan kemasan Karya Umbi,” jelas Valentinus. Selain keripik, di Karya Umbi juga dijual aneka oleh-oleh khas Bandung lain seperti dodol tasik, sale pisang, dan opak ketan. “Penganan tersebut adalah titipan. Makanya tidak diberi merek kami,” tutur dosen di Fakultas Hukum UNPAD ini.

ULI BAKAR

Selain susu dan ayam, uli (ketan) bakar juga jadi favorit di Lembang. Pedagang uli bakar berderet di sisi kiri jalan Lembang, sedangkan warung makan di sebelah kanan jalan. “Sudah sejak tahun ’70 saya berjualan,” ungkap Acep (51) yang mangkal di seberang Ayam Brebes. Usaha ini diwarisinya dari ibunya yang dulu berdagang ketan serta aneka makanan di pasar Lembang.

Ketan bakar yang diiris kotak ini biasanya dihidangkan dua cara, manis atau pedas. Jika manis bisa dicocolkan pada gula yang bercampur kelapa sangrai, sedangkan yang pedas dinikmati dengan sambal oncom. “Sepotong uli bakar dijual Rp. 1.250,” ujar Acep yang menghabiskan 5 liter beras ketan setiap harinya. Makan satu rasanya kurang puas dalam dinginnya udara Lembang. Apalagi malam hari. Dijamin perut akan selalu minta diisi. Selain ketan bakar, ia juga menyediakan minuman hangat lainnya seperti bandrek dan bajigur yang dijual Rp. 1.000 per gelasnya. “Soalnya ketan bakar paling enak dinikmati dengan minuman panas seperti bandrek atau bajigur. Apalagi Lembang sangat dingin,” paparnya. Ia berjualan 24 jam setiap harinya, bergantian dangan kakaknya.

SATE KELINCI

Beberapa ratus meter sebelum atau sesudah menikmati uli bakar atau susu murni, tepatnya di Kampung Batu Reok, Anda akan menemukan warung-warung sederhana yang menawarkan sate kelinci. “Rata-rata warung di sini sudah berjualan lebih dari 2 tahun,” ujar Trisna (41) salah seorang pemilik warung.

Sate kelinci diambil dari kelinci yang berumur 4-6 bulan. “Dagingnya empuk dan manis,” terangnya. Sate ini dihidangkan dengan bumbu kacang atau bumbu kecap dengan irisan cabai kecil. Harganya Rp.6.000 per 10 tusuk. Uniknya, pembeli bisa memilih sendiri kelincinya sejak masih hidup. “Makanya dagingnya pun segar. Selain itu pembeli percaya sate ini betul-betul terbuat dari daging kelinci, bukan ayam,” tutur Trisna.

Selain sate, tersedia juga gule dan rendang kelinci seharga Rp. 3.500 per porsi. Khusus untuk menu ini dipilih dari kelinci yang berumur 3 bulan. “Supaya dagingnya empuk,” ujar Trisna yang berjualan sejak sore hingga tengah malam setiap harinya. Dalam satu hari, ia menyediakan 20-30 ekor kelinci untuk membuat ketiga menu tersebut. “Untuk sate, satu ekor bisa menjadi 60-90 tusuk,” jelasnya.

Beternak kelinci menjadi andalan hampir sebagian besar penduduk di sini. Selain murah, beternaknya juga mudah. “Dalam 6 bulan saja, kita sudah bisa memperoleh hasilnya,” jelasnya. Selain itu, kulit kelinci laku dijual sebagai bahan untuk kerajinan.Harga kulitnya bisa mencapai Rp. 1.500 per ekor. Bahkan, lanjut Trisna, air seni kelinci juga laku dijual Rp. 25 ribu per botol. “Orang-orang membelinya untuk dijadikan pupuk.”

MARTABAK SAN FRANSISCO

Martabak San Fransisco termasuk warung martabak yang diburu oleh para penggemar martabak. Kurang jelas mengapa dinamakan begitu. “Saya sendiri juga cuma meneruskan usaha ini sejak tahun 80-an. Jadi tak tahu asal-usulnya,” ujar Maman (46).

Martabak San Fransisco tersedia dalam tiga rasa, daging ayam, sapi, dan kornet. Pembeli juga bisa memilih yang biasa atau spesial. Harganya Rp. 15 ribu untuk yagn biasa sedang yang spesial harganya Rp. 18 ribu. “Yang biasa memakai 2 telur, yang spesial menggunakan 3 telur. Telurnya telur ayam negeri,” ujar Maman.

Di warungnya yang buka sejak jam 4 sore hingga 11 malam ini, ia bisa menjual sekitar 100 martabak dalam sehari. “Sebelum krisis bisa mencapai 200 lebih,” tambah Maman yang membutuhkan sekitar 1 kwintal bawang daun sehari ini. Di tempatnya berjualan, selain martabak telor juga tersedia makanan lain seperti martabak manis, nasi rames, ayam panggang, dan pempek.

KUE KERING

Ingin mencari kue kering di Bandung? Datang saja ke jl. Gempol Wetan. Anda akan menemukan aneka kue kering seperti sus bawang, kaastengels, kue almon, nastar, kue tambang keju, putri salju, kue jahe, dan kue mente. Pemiliknya adalah Ny. Henrietta.Di toko yang berdiri sejak tahun 1980 ini ada sekitar 44 jenis kue kering. Kue-kue ini dijual dalam kemasan plastik dengan harga antara Rp. 3.500 hingga Rp. 12.000 per bungkus atau Rp 10 ribu hingga rp 27.500 dalam kemasan kardus. Kue kering yang menjadi favorit pengunjung biasanya sus bawang yang berbentuk bulat-bulat dan tambang keju. “Hampir setiap pengunjung mencari kue ini,” ujar Lina. Kendati lumayan sulit mencari toko ini, tetap saja banyak yang mencarinya sebagai oleh-oleh. Bahkan di hari Lebaran dan Natal, lebih banyak lagi pengunjung yang datang hingga mereka harus membuatnya dua kali lipat.

MI KOCOK

Mih Kocok SKM Sapi Asli cukup punya nama di Bandung. Letaknya di Jl. Sunda, tak jauh dari pasar swalayan Yogya. SKM sendiri diambil dari nama sang pemilik, Sukirman, yang kini sudah meninggal.

Sukirman, menurut Anto (32) sang anak, sudah mulai berjualan mi kocok sejak harga per mangkoknya cuma Rp. 25. yang kini mengelola warung. Kini harganya sudah Rp 3.500 – Rp. 5.000. Sesuai namanya, mi kocok buatan Anto menggunakan kaki sapi. “Satu hari saya membeli 20 stel kaki sapi (1 stel = 4 kaki sapi, Red.) dan 25 kg mi. Semuanya sudah ada penyalur khusus,” ujar Anto yang membuka warungnya pukul 9 pagi hingga 10 malam setiap hari.

Mih Kocok SKM terhidang dalam dua pilihan, yang biasa dan yang spesial. Yang spesial dilengkapi dengan telapok yakni bagian bawah kaki sapi yang berwarna kehitaman. Dalam satu hari, warungnya mampu menjual 400-600 porsi setiap hari. Jumlahnya bisa bertambah jika ada pesanan untuk rapat pertemuan atau resepsi pernikahan.

PEPES IKAN MAS

Pepes ikan mas juga termasuk masakan Bandung yang lekang oleh waktu.Anda bisa membeli pepes ikan mas salah satunya di Jl. Nanas, buatan Ny. Inen dan Ny. Lies. Mereka sudah berjualan pepes ikan sejak 20 tahun yang lalu. Keunggulan pepes ikan mas buatan pasangan ini adalah durinya yang lunak dan aman dimakan.

Rahasianya terletak pada pemanggangan yang makan waktu 12 jam di oven khusus. Pengovenan bisa menghabiskan 1 tabung gas sekali naik. Oven ini dibuat sedemikian rupa hingga ikan mas tidak hancur dagingnya meski dimasak lama. Sehari mereka bisa memproduksi 150 ekor ikan mas. Bahkan di bulan puasa bisa meningkat hingga dua kali lipat. Produksi besar ini tidak hanya dipasarkan di Bandung, tetapi juga ke Jakarta.

Harga pepes berkisar atnara rp 10.500 – Rp 37.800, tergantung dari beratnya. Selain pepes ikan, juga disediakan pepes induk ikan bertelur yang harganya mencapai Rp. 55.000 dengan berat 2-5 kg. Selain untuk oleh-oleh, pepes ikan mas juga sering dipesan oleh hotel-hotel yang ada di Bandung dan untuk pesta perkawinan.

SATE KARDJAN

Mencari sate di Bandung tentu teringat pada Sate Kardjan yang dijual sejak tahun 1970 dijual di jl. Pasirkaliki. “Sebenarnya sejarahnya dimulai sejak tahun 1925 oleh kakek saya di Klaten,” tutur Kristiadi, cucu pendiri sate Kardjan yang kini mengelola bisnis keluarga itu. Sate Kardjan mengkhususkan diri pada daging kambing. Beberapa menu andalan di antaranya sate polos, sate selap gajih (diselipi lemak), atau sate buntel yang harga rata-ratanya 950 rupiah per tusuk. “Semua sate ini dibuat hanya dari bagian paha kambing karena merupakan bagian terbaik untuk dibuat sate,” jelas Kristiadi yang memeproleh daging dari langganannya di Pasar Ciroyom.

Selain itu juga tersedia sate cempe yang menggunakan daging kambing berusia 3 bulan yang manis dan empuk. “Dalam sehari membutuhkan sekitar 50 kg paha kambing dan 10 ekor cempe,” ujar Kristiadi yang membuka warungnya dari pukul 12 siang hingga 12 malam itu. Menurutnya, Kardjan juga menjadi pelopor bagi penjualan tongseng di Bandung. “Sebelum sate Kardjan muncul di Bandung, belum ada yang menjual tongseng,” papar Kristiadi. Setelah Kardjan memperkenalkan tongseng, maka muncullah tongseng-tongseng lainnya.

Untuk memuaskan langganannya, Kristiadi menghidangkan sate dalam piring panas (hot plate). Bumbunya terdiri dari 2 pilihan yakni bumbu kecap dan bumbu kacang. Pembeli boleh memilihnya sesuai selera.

RESTORAN SINDANG RERET

Sindang Reret bisa dikatakan trade mark rumah makan Sunda di Bandung. Sindang artinya datang, reret artinya melirik. Maksudnya, siapa pun yang melirik ke restoran ini, pasti tergiur untuk datang mencicipi.

Konsep awal yang ditawarkan ketika restoran ini dibuka tahun 1973 adalah interiornya yang unik. Tempat makan diatur terapung di atas air (bale kambang). Namun konsep ini hanya diterapkan di Sindang Reret Ciwidey, tidak di cabang lainnya. “Cabang lain punya keistimewaan yang lain lagi. Misalnya, di Naripan yang selalu mempertunjukkan wayang golek setipa malam Minggu,” terang Harries Kommeng, Sales and Marketing Manager restoran Sindang Reret.

Seperti menu khas Sunda lainnya di sana tersedia karedok, sayur asem, soto Bandung, gepuk, gurame bakar, gurame goreng, dan sambal terasi hingga nasi timbel komplet. Tersedia pula aneka minuman seperti bandrek, bajigur, cincau, dan susu murni. Namun menu yang paling dicari adalah pepes ikan, karedok, dan gepuk. Saat ini untuk ke-4 restoran dalam sekali weekend membutuhkan lebih dari 1 kwintal gurame dan ikan mas.

SEKOTENG BUNGSU 29

Es Sekoteng Bungsu sebetulnya tak ubahnya es campur biasa. Namun namanya sudah terkenal ke mana-mana. Usaha es ini semua dirintis oleh Pak Oyen sejak tahun 1965. Usaha ini kemudian diambil alih oleh Sumarsana ketika Oyen meninggal tahun 1970. Sang pengganti langsung mengganti namanya menjadi es sekoteng Bungsu 29 sesuai dengan nomor rumahnya. Namun nama Oyen sendiri tidak ditinggilkan. Ada nama es campur yang diberi nama es campur Oyen.

Satu mangkuk es sekoteng yang terdiri dari kelapa muda, sekoteng, advokad, dan kolang-kaling ini dijual dengan harga Rp 3.000. Anda bisa datang sekitar pukul 09.00 sampai pukul 5 sore. Tetapi terkadang pukul 4 sore pun es sudah ludas terjual. Satu hari, Dirman mengaku menghabiskan 40 butir kelapa muda. Tentu ini perhitungan tanpa pesanan pesta.

SOTO BANDUNG

Soto Bandung memang berbeda dengan soto dari daerah lain karena tidak menggunakan santan dan bening warnanya. Isinya pun berbeda, menggunakan lobak dan daging sapi yang dipotong kecil-kecil, serta daun bawang, seledri dan kacang kedelai goreng.

Jika ingin merasakan soto Bandung yang asli, coba saja datang ke jl. Cibadak, dekat alun-alun Bandung. Anda akan melihat rumah makan Soto Ojolali yang telah berdiri sejak tahun ’40-an. “Dulu yang memulai adalah kakek saya, almarhum Pak Karta,” ujar H. Tisna (56) yang mulai mengelola usaha ini sejak tahun 1970. “Kalau tak salah, dulu harganya masih menggunakan satuan benggol atau sen,” tambahnya. Awalnya, menurut Tisna, kakeknya berjualan soto secara pikulan di daerah Cibadak. Setelah mengumpulkan modal, barulah soto ini memiliki warung makan. Setiap hari soto yang dijual Rp. 6.000 per porsi ini laris manis. Sampai-sampai Tisna harus menyediakan 20 kilogram daging dan 20 kilogram lobak setiap harinya.

Soto ini juga bisa dinikmati Jl. Raya Cipasir, Rancaekek yang justru lebih besar dari pada pusatnya di Jl. Cibadak. “Selain soto, juga tersedia makanan khas sunda lainnya dan seafood,” ujar Tisna berpromosi.

SURABI

Surabi (kita mengenalnya sebagai serabi) juga cukup terkenal di Bandung. Isinya beraneka ragam. Dari oncom, keju, vanila, sampai stroberi. Serabi seperti ini dijual di Jl. Geger Kalong. Cuma saja Anda mesti ekstra sabar karena pesanan biasanya baru datang setelah menunggu 30 menit. Itu pun harus menunggu di trotoar jalanan atau di dalam mobil karena kedai itu hanya bisa menampung 20 pengunjung.

Warung ini dibuka sejak jam 3 sore hingga 11 malam. “Alhamdulillah, ramai terus,” tutur Andri yang menghabiskan sekitar 50 kg tepung beras setiap harinya. Awalnya hanya iseng saja ketika banyak orang membuka usaha kafe jalanan dengan menu barat seperti sosis atau kentang goreng. Lantas bersama sekitar 12 saudaranya, Andri membuka warung dengan menu yang berbeda dari lainnya, yaitu surabi. “Ada saudara saya yang hobi dan pandai memasak, akhirnya lahirlah aneka surabi seperti ini,” ujarnya di sela-sela kesibukannya melayani pesanan.

KUE SUS MERDEKA

Sebetulnya toko kue Merdeka yang terletak di Jl. Merdeka Bandung ini tidak hanya menjual Sus Merdeka, tetapi roti dan aneka kue. Tetapi sus buatan toko kue ini kemudian yang melejit sampai-sampai dikenal sebagai Sus Merdeka.

Sus yang menjadi primadona ini memang berbeda dalam hal isi dengan sus buatan toko kue lainnya. Kalau sus lain diisi vla, Sus Merdeka dicampur dengan krim plus rum yang lumayan mencolok. Toko kue Merdeka sendiri sudah berdiri sejak tahun 1969. Tetapi baru setahun kemudian berkembang pesat. “Sus kami mulai banyak dipesan di acara-acara resmi seperti rapat, arisan, atau pertemuan penting,” ujar Didi Susimba, Penanggung Jawab Toko Kue Merdeka yang dikelola oleh PT. Tirta Ratna ini.

Harga kue per buah Rp. 1.200 sedang sus kering yang kini mulai digemari juga harnya Rp. 5.000 per bungkusnya. Kini akibat dari susnya yang terkenal itu, toko kue Merdeka sudah membuka banyak sekali cabang di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya.

PISANG MOLEN

Apa yang diminta kerabat Anda sebagai oleh-oleh manakala pergi ke Bandung? Pisang molen? Tak usah kaget. Kue ini tengah menjadi tren oleh-oleh dari Bandung di samping Sus Merdeka atau Brownies Primarasa. Banyak pisang molen di jual ornag di Bandung. Tetapi tampaknya yang diproduksi Kartika Sari paling ramai. Bisa jadi saat datang ke tokonya di Kebon Kawung, dekat stasiun kereta api, Anda diminta menunggu karena masih dibuat.Ny. Agus, sang pemilik tertarik mengembangkan kue ini sejak lama kala ibunya masih berjualan kue. “Saya sampai kursus kue supaya mendapatkan kue yang enak,” kisah Ny. Agus.

Usahanya berhasil. Saat ini kue molen buatannya tidak hanya berjaya di Bandung (kini sudah ada 3 cabang lainnya), tetapi juga di berbagai kota besar di Indonesia. Sepuluh buah kue dalam 1 dus itu dijualnya seharga Rp. 11 ribu untuk molen keju, Rp. 12 ribu untuk molen keju cokelat. Ini untuk molen ukuran biasa. Sedang molen ukuran kecil masing-masing Rp. 8000 dan Rp. 9.000. Bila tak puas dengan ukuran tersebut, Anda bisa memilih ukuran jumbo seharga Rp. 2.500.

LOTEK KALIPAH APO

Sesuai namanya, lotek ini dijual di jl. Kalipah Apo, tidak begitu jauh dari Cendol Elizabeth. Sejak buka pukul 09.00 hingga pukul 16.00 kedai ini selalu ramai dengana ntrean pembeli. Mereka dengan sabar menanti karyawan yang mengelola usaha milik Mariana Latif ini emngulek bumbu di atas cobek raksasa berdiameter ½ meter itu.

Kalau lotek ini bisa bertahan selama 48 tahun itu karena Mariana selalu berusaha mempertahankan kualitas. “Sampai sekarang ibu masih membeli sayuran sendiri setiap subuh di pasar,” kata Hena, pengelola kedai yang menjual loteknya seharga Rp. 4.500. Selain lotek, tersedia juga kolak campur, rujak campur, bubur lemu dan rujak bebek (tumbuk). Umumnya dijual dengan harga 3.500 rupiah per porsi. Rujak bebek hanya bisa didapatkan hari Minggu saja. “Soalnya agak repot membuatnya,” ujar Hena yang menutup kedainya setiap hari Selasa itu.

KUE BALOK

Kue balok sebetulnya bukan kue asing bagi Anda. Kue ini mirip pukis, tetapi lebih besar dan bagian atasnya merekah. Umunya penjual kue balok menyajikan kue ini dalam dua rasa berbeda, manis dan cokelat. Harganya Rp. 250 per buah.
“Sangat nikmat bila dimakan dengan susu. Apalagi jika masih panas,” ujar Yayan, salah seorang penjual kue balok. Dalam 1 hari pria asal Tasikmalaya ini bisa menjual sekitar 200 kue balok. Biasanya ia mangkal di perempatan Antapani sejak pukul 8 hingga sore hari. Setelah itu ia menjajakan dagangannya secara berkeliling.

BUBUR AYAM ZAENAL

Bubur Ayam Zaenal sudah sejak tahun 1970 mangkal di daerah simpang Dago. Setiap hari warung yang bisa menapung 20 orang itu kedatangan 200 pengunjung yang tergila-gila dengan bubur kental buatan sang pemilik. Begitu kentalnya sampai-sampai disantapnya pun tak hanya menggunakan sendok, tetapi berikut garpu. Isinya sebetulnya biasa saja seperti bubur pada umumnya, dengan irisan ayam, kecap, emping, cakue danirisan daun bawang. Tetapi menurut Rosyidi (40), sang pemilik, rasa buburnya dijamin gurih dan lezat.

“Karena perbandingan bersa dan ayamnya adalah 1:2. Setiap hari saya memasak 20 kilogram beras dan 30 ekor ayam,” aku Rosyidi yang meneruskan usaha bubur ini dari sang ayah, Zaenal.

Semangkok bubur dijualnya dengan harga Rp. 6 ribu. Kalau terlalu mahal, pembeli dapat memesan setangah porsi saja. Harga bubur setengah porsi hanya Rp. 3.500. Meski relatif mahal, toh Rosyidi tak pernah kehabisan penggemar. Dari pukul 06.00 hingga pukul 24.00, buburnya selalu diserbu penggemar. “Malah hampir setiap hari ada saja orang yang merasa kesal karena kehabisan bubur,” ucapnya bangga.

USAHA PERMEN KARAMEL UNTUK MANFAATKAN LIMPAHAN SUSU

Pangalengan (2 jam perjalanan dari Bandung ke arah selatan) terkenal dengan hasil susunya. Jadi tak usah heran kalau di Jakarta Anda melihat sepeda yang menjual susu segar dari Pangalengan. Begitu melimpahnya hasil susu di situ, sampai-sampai orang memanfaatkannya untuk dijadikan permen susu karamel. Permen ini bisa ditemui hampir disetiap toko yang menjualoleh-oleh khas Bandung. Biasanya dibungkus kecil-kecil dengan kertas berwarna-warni dalam kemasan plastik.

Ada beberapa perusahaan permen karamel di Pangalengan. Salah satunya merk TK yang terletak di daerah Sukamenak. Pemiliknya adlah Ny. Ipah Datipah Ismail (55). Sudah sejak tahun 1970 ia membuka usaha ini ketika produksi susu sapi saat itu melimpah, melebihi kebutuhan masyarakat. Ipah lantas bekerja sama dengan koperasi setempat berusaha memanfaatkannya menjadiolahan lain yang memiliki daya jual. Setelah bermusyawarah, pilihan jatuh pada permen karamel. “Yang namanya permen, kan tidakpernah sepi pembeli,” kata Ipah.

Sebenarnya, menurut Ipah, permen karamel sudah dibuat sejak dulu. Sayangnya kualitas dan pemasarannya tidak berjalan bagus. “Maka itu saya berusaha memperbaikinya. Alhamdulillah sambutannya cukup bagus,” ujarnya. Saat ini, ia membutuhkan sekitar 1.500-1.800 liter susu untuk produksi satu hari. “Sebelum krisi bisa mencapai 3.500 liter susu,” tambahnya.

Betul memang dugaan Ipah. Permen tak pernah sepi dari pembeli. Omzetnya dalam sebulan tidak tanggung-tanggung, bisa mencapai 80-120 juta. Padahal proses pembuatannya tidak sulit-sulit amat, Cuma mebutuhkan waktu 10 jam untuk pengadukan susu dan gula hingga kental.

Pemasaran permen karamel sampai saat ini lebih banyak di daerah Jawa Barat, terutama Bandung. Dengan dibantu sekitar 100 karyawan, kini Ipah juga membuat jenis makanan lain dengan bahan susu, seperti dodol susu dan kerupuk susu. Dodol susu menggunakan bahan baku beras ketan sedangkan kerupuk susu menggunakan tepung tapioka dan kepala susu. “Pokoknya saya berusaha memaksimalkan kegunaan susu,” tegas ibu beranak 7 ini.

Selama hampir 30 tahun berkarya, sudah cukup banyak penghargaan tingkat daerah dan nasional yang diraihnya, seperti pengusaha kecil berprestasi, penghargaan dari Gubernur Jawa Barat Nuriana, hingga Upakarti. Bahkan pada bulan Maret ini, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama suami dan seorang anaknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: