TEMPE, The superior soyfood from Indonesia

Desember 7, 2007

Makanan asli Indonesia, yang disebut dalam ‘Serat Centini’ dan buku “History of Java” karangan Sir Stanford Raffles bukan lagi santapan orang pinggiran.

Badan kesehatan dunia (WHO) bahkan mengakuinya sebagai makan berkhasiat yang dapat mencegah dan mengatasi berbagai penyakit, setelah hasil penelitian tentang senyawa pembentuk tempe di sejumlah negara maju seperti AS, Jepang, Inggris dan Jerman berbuah positif.

Tempe hasil fermentasi kedelai dengan inokulum ‘Rhizopus sp.’ yang berwarna putih kapan. “Rhizopus sp.’ ini merupakan jamur yang dapat mengurai protein dalam kedelai menjadi asam amino, sehingga lebih mudah dicerna tubuh.

Sumbangan terbesar tempe buat perempuan, salah satunya adalah: kemampuannya membuat tubuh tetap langsing serta mendukung program penurunan berat badan. Kandungannya hanya 157 kalori per 100gr. Tapi kadar lemak tempe cukup tinggi yaitu tiap 100 gr. mengandung 8.8 gr lemak (tempe segar) dan 19,7 (tempe kering).

Namun, tempe mengeluarkan enzim Lipase, yang akan memecah lemak itu menjadi lemak yang dibutuhkan tubuh, seperti asam lemak linoleat dan oleat.

Tempe juga berpotensi meningkatkan mutu makanan perempuan. Setiap 100 gr tempe segar menyumbang 10.9 gr protein, lebih dari 25% kebutuhan protein per hari yang dianjurkan bagi orang dewasa.

Susunan asam amino tempe ini mempunyai kadar lisin yang tinggi tetapi metionin-sistinnya rendah. Struktur ini berlawanan dengan yang dimiliki beras. Teorinya, asam amino protein nabati bakal menjadi protein lengkap bila di campur dengan sesamanya, misalnya nasi dicampur tahu, atau nasi dicampur perkedel jagung. Itu sebabnya makan tempe campur nasi sangat dianjurkan.

Bagi ibu hamil dan menyusui, tempe dapat membantu dalam kecukupan zat gizi hanya dengan mengkonsumsi 50 gr tempe (2 potong tempe seukuran kotak korek api).

Tempe juga merangsang fungsi kekebalan tubuh terhadap bakteri ‘E.coli’ penyebab diare. Caranya, tempe dikukus lalu dihaluskan kemudian dicampur dengan air tajin dan garam. Berikan racikan tempe ini berkali-kali. Cara ini sudah dibuktikan di Jepang saat wabah “E.coli O-175” tahun 1996 lalu.

Tempe bisa melindungi perempuan dari serangan berbagai jenis kanker, seperti kanker payudara, kanker rahim, dan sejenisnya. Senyawa dalam tempe diduga memiliki aktivitas antipenyakit degeneratif, antara lain vitamin E, karotenoid, superoksida, deismutase dan isoflavon.

Tempe juga dipercaya dapat mencegah anemia dan osteoporosis. Tempe berperan sebagai pemasok mineral, vitamin B-12 dan zat besi yang sangat dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah. Zat besi dalam tempe cukup tinggi mencapai 9mg, 30% dari kecukupan zat besi yang dianjurkan tiap hari, juga zat besi ini lebih mudah diserap tubuh dibanding dengan zat besi pada pangan nabati lainnya. Sedangkan kandungan mineral kalsium tempe juga tinggi mencapai 347 mg/100gr, mencukupi 50% kebutuhan kalsium tubuh setiap harinya.

Tempe juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Senyawa protein, asam lemak PUFA, serat, niasin, dan kalsium dalam tempe dapat mengurangi plaque kolesterol yang dapat menyumbat pembuluh darah dan pengerasan pembuluh darah yang seringmenyebabkan penyakit jantung, hipertensi dan stroke.

Tempe juga berguna bagi proses pembentukan tulang menurut Prof. Ahmad Biben, guru besar pada Fakultas Kesehatan, Universitas Padjajaran Bandung. Kandungan zat aktif isoflavon, khususnya daidzein, genistein dan isoflavon tipe-2 yang dapat berkaitan dengan reseptor hormon ekstrogen dalam tubuh, mengurangi keluhan psikovasomotor, khususnya semburan panas di dada (yang sering dialami saat perempuan saat memasuki masa menopause).

Tempe mengandung berbagai unsur bermanfaat, seperti karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin, enzim, daidzein, genisten, serta komponen anti- bakteri. Agar khasiat zat-zat ini tidak terbuang dalam proses pemasakan, Prof. Biben menganjurkan tempe dimasak dengan menu seperti sup, semur atau dibacem.

Melihat manfaatnya, wajar bila di mancanegara tempe sedang beranjak menjadi primadona, terutama di Jepang dan AS.

Pakar makanan tradisional DR. William Shurleff dan DR. Akiko Aoyagi bahkan menjuluki tempe sebagai ‘superior soyfood from Indonesia’.

Sumber: Majalah INTISARI, edisi Des.2004

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: