Kondom Bukan Jaminan Tak Terlular HIV

Desember 11, 2007

Pengantar
Pada 27 November 2007, pada acara Deklarasi Dai dan Daiyah dalam Penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi DKI Jakarta, Jurnal Nasional mewawancarai Prof Dr dr H Dadang Hawari mengenai pendapatnya soal kampanye kondom yang sedang digalakkan. Tujuan dari menampilkannya, sebagai pembanding pendapat mainstream bahwa kondom itu penting untuk mencegah HIV/AIDS. Berikut pendapatnya yang disarikan dari wawancara dengannya.

SEKARANG ini marak dikampanyekan kondom untuk pencegahan penularan HIV. Kampanye ini digalakkan sampai ke sekolah-sekolah, di madrasah-madrasah, dan lain-lainnya. Kampanye ini sedikit atau banyak memancing rasa ingin tahu anak-anak sekolah. Padahal, anak-anak sekolah itu tadinya belum mengerti apa-apa. Karena diberi kampanye kondom, mereka jadi bertanya “Kondom itu apa sih?” sehingga mereka mencari tahu, lalu mereka menjadi tahu bahwa di dunia ini ada seks bebas. Syukur-syukur kalau mereka tak meniru, tapi kalau mereka jadi terpancing untuk jutru melakukannya, berarti kampanye itu sudah kebablasan. Salah sasaran.

Kampanye kondom juga menyesatkan, karena orang berpikir kalau sudah memakai kondom maka amanlah ia dari penularan HIV. Padahal, kondom tidak 100 persen aman. Karena ukuran virus sangat kecil, lebih kecil dari sperma. Tujuan awal adanya kondom adalah untuk mencegah sperma, kalau dipakai untuk mencegah virus, maka jelas saja virus itu bisa lolos di permukaan kondom yang berpori-pori. Apa lagi kalau dipakai untuk seks anal, ya sobeklah kondom itu, sehingga virus HIV bisa masuk.

Dalam konferensi AIDS Asia Pasifik di Chiang Mai, Thailand, 1995, dilaporkan bahwa penggunaan kondom aman tidaklah benar. Pori-pori kondom berdiameter 1/60 mikron dalam keadaan tidak meregang, sedangkan bila dalam keadaan meregang mencapai 10 kali lebih besar. Sementara kecilnya virus HIV berdiameter 1/250 mikron. Dengan demikian, jelas bahwa virus HIV dapat dengan leluasa menembus kondom.

Hasil penelitian Prof Dr Biran Affandi (2000) menyatakan tingkat kegagalan kondom dalam Keluarga Bencana mencapai 20 persen. Hasil penelitian ini mendukung pernyataan Prof Dr Haryono Suyono (1994) bahwa kondom dirancang untuk Keluarga Berencana, bukan untuk mencegah virus HIV.

Secara psikologis, dengan memakai kondom orang merasa aman dari HIV dengan pengaman yang sebenarnya tidak juga aman. Kalau dikatakan memakai kondom itu sebagai langkah prevensi, itu benar. Tapi, kampanyenya jangan menyesatkan. Jangan mengatakan pakailah kondom agar Anda aman dari HIV/AIDS.

Cara teraman untuk tidak tertular HIV atau cara untuk memutus mata rantai penularan HIV adalah dengan menghentikan seks yang tidak halal, yaitu perjinahan. Sedangkan yang telanjur mengidap HIV atau menderita AIDS segera dikarantinakan. Ini untuk menyelamatkan mereka yang belum tertular. Zaman Belanda dulu ada kasus penularan penyakit cacar. Mereka yang tertular dikarantinakan di Pulau Onrus, di Kepulauan Seribu. Situasi masyarakat jadi aman. Tidak panik. Maka itu, perlu ada undang-undang soal pengarantinaan itu.

Jangan kita terpaku pada pembelaan hak asasi manusia (HAM) yang keliru. Mereka yang terinfeksi HIV memang punya HAM, tapi orang yang belum tertular juga punya HAM untuk tidak terkena. Untuk melaksanakan ini memang perlu ketegasan dan kemauan semua pihak, baik itu pemerintah sebagai yang memegang kekuasaan maupun individu dan masyarakat. Tanpa kemauan dan ketegasan, penularan HIV akan terus berjalan.

Jadi, untuk mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS, stop perjinahan, stop penyebaran melalui media lain misalnya jarum suntik bersama. Jadi, yang penting itu kemauan. Ada kemauan tidak? Contohnya Islamic Center Jakarta Utara ini dulunya lokalisasi Kramat Tunggak. Jadi, kalau ada kemauan maka sesuatu bisa diubah. Memberantas pelacuran, misalnya, itu susah kalau tidak ada kemauan. Mengapa itu terus berlangsung? Karena pelacuran itu omzetnya Rp11 triliun. Siapa yang mau kehilangan omzet sebesar itu?

Wita Lestari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: